Piti, Warisan Anyaman Bambu yang Bertahan di Tengah Zaman
Di tengah gempuran wadah plastik dan kemasan modern yang serba praktis, ada satu kerajinan tangan yang masih setia dijaga oleh warga Desa Simbang, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara: piti, wadah anyaman bambu tradisional yang biasa digunakan sebagai tempat gethuk dan jajanan pasar lainnya.
Apa Itu Piti?
Piti adalah wadah kecil berbentuk bulat pipih yang dianyam dari bilah bambu tipis. Bentuknya sederhana, namun fungsinya sangat penting dalam tradisi kuliner masyarakat Jawa, khususnya sebagai kemasan gethuk—makanan olahan singkong yang menjadi jajanan khas di berbagai daerah. Selain untuk gethuk, piti juga kerap digunakan sebagai wadah jajanan pasar lain seperti tiwul, cenil, dan aneka kudapan tradisional.
Keunikan piti terletak pada proses pembuatannya yang masih mengandalkan keterampilan tangan sepenuhnya, mulai dari memilih bambu, membelah, menyerut, hingga menganyamnya menjadi wadah yang rapi dan kuat.
Warisan yang Telah Berpuluh-Puluh Tahun
Bagi warga Desa Simbang, membuat piti bukan sekadar pekerjaan sampingan, melainkan bagian dari identitas dan warisan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi selama berpuluh-puluh tahun. Banyak pengrajin piti saat ini adalah generasi kedua atau bahkan ketiga dari keluarga yang sejak dulu menekuni kerajinan ini.
Keterampilan menganyam piti biasanya diajarkan secara alami dalam keluarga—anak-anak tumbuh sambil melihat orang tua mereka menganyam bambu di sela-sela waktu senggang, hingga akhirnya ikut belajar dan meneruskan tradisi tersebut. Proses pewarisan ini berjalan tanpa pelatihan formal, namun tetap menjaga kualitas dan ciri khas anyaman yang menjadi ciri khas Desa Simbang.
Proses Pembuatan yang Penuh Ketelatenan
Membuat piti membutuhkan ketekunan dan ketelitian tinggi. Secara umum, tahapan pembuatannya meliputi:
- Pemilihan bambu – Bambu yang digunakan biasanya jenis bambu yang cukup tua namun masih lentur, agar mudah dianyam tanpa mudah patah.
- Pembelahan dan penyerutan – Bambu dibelah menjadi bilah-bilah tipis, kemudian diserut hingga permukaannya halus dan memiliki ketebalan yang seragam.
- Penganyaman – Bilah-bilah bambu tersebut dianyam membentuk pola dasar wadah, biasanya dengan pola silang khas yang memberi kekuatan pada struktur piti.
- Finishing – Tahap akhir berupa perapian bagian tepi dan penguatan bentuk agar piti siap digunakan.
Seluruh proses ini umumnya dikerjakan secara manual di rumah masing-masing pengrajin, menjadikan piti sebagai produk kerajinan rumahan yang sarat nilai tradisi.
Tantangan di Tengah Perubahan Zaman
Sayangnya, seiring berjalannya waktu, permintaan terhadap wadah anyaman tradisional seperti piti mengalami penurunan. Kemasan modern berbahan plastik atau kertas dianggap lebih praktis, murah, dan mudah didapat oleh para pedagang jajanan. Akibatnya, harga jual piti pun relatif rendah dibandingkan dengan waktu dan tenaga yang dibutuhkan untuk membuatnya.
Kondisi ini membuat penghasilan dari kerajinan piti kurang mampu menopang kebutuhan ekonomi secara signifikan. Banyak pengrajin yang harus mengandalkan pekerjaan lain sebagai sumber penghasilan utama, sementara membuat piti dilakukan di sela-sela waktu luang.
Bertahan Karena Cinta pada Tradisi
Meski demikian, warga Desa Simbang tetap teguh mempertahankan kerajinan piti ini. Bagi mereka, piti bukan sekadar barang dagangan, melainkan simbol identitas desa dan warisan leluhur yang tidak ingin hilang begitu saja. Banyak pengrajin yang tetap menganyam piti bukan semata demi keuntungan ekonomi, tetapi karena rasa tanggung jawab untuk menjaga tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka sejak kecil.
Semangat inilah yang membuat kerajinan piti tetap lestari hingga saat ini, meskipun tantangan zaman terus berdatangan. Ketekunan warga Desa Simbang dalam menjaga warisan ini menjadi bukti nyata bahwa nilai budaya dan kearifan lokal masih memiliki tempat di hati masyarakat, sekalipun dunia terus berubah menuju serba modern.
Harapan untuk Masa Depan
Ke depan, dukungan dari berbagai pihak—baik pemerintah desa, dinas terkait, maupun masyarakat luas—sangat diharapkan untuk membantu melestarikan kerajinan piti ini. Upaya seperti promosi produk, pelatihan inovasi desain, hingga pengembangan pasar yang lebih luas bisa menjadi jalan agar kerajinan piti tidak hanya bertahan, tetapi juga kembali memberi manfaat ekonomi yang layak bagi para pengrajinnya.
Piti bukan sekadar wadah gethuk. Ia adalah cerita tentang ketekunan, kesetiaan pada tradisi, dan semangat warga Desa Simbang, Mandiraja, Banjarnegara dalam menjaga warisan budaya agar tidak lekang oleh waktu.